Pernah nggak sih lo liat berita tentang MotoGP Mandalika dan mikir, “Wah gede banget ya event-nya,” tapi nggak ngeh kalo di balik itu ada banyak even olahraga lain yang nggak kalah penting?
Gue mau kasih tau sesuatu. Juli 2026 ini, di balik gemerlap MotoGP Mandalika yang bakal disaksikan 677 juta pasang mata global , ada tiga even olahraga lain yang justru menunjukkan kalo Indonesia serius banget membangun olahraga dari akar rumput. Bukan cuma dari atas, tapi dari bawah. Dan ini bukti kalo kita nggak cuma bisa jadi tuan rumah, tapi juga punya visi jangka panjang buat olahraga nasional.
Riau Bhayangkara Run: 15.000 Pelari dari Seluruh Dunia
Bayangin, 17 Juli 2026 nanti, halaman Mapolda Riau bakal dipadati 15.000 pelari dari berbagai negara . Ini adalah ajang lari internasional terbesar di Sumatera yang masuk kalender nasional PASI . Dan yang bikin keren, acara ini udah punya sertifikasi World Athletics—standar internasional yang nggak main-main .
Tema tahun ini adalah “Run for Earth” —berlari sambil menjaga bumi . Ini bagian dari program Green Policing yang digagas Kapolda Riau, buat dorong kesadaran lingkungan. Bahkan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo direncanakan bakal hadir langsung .
Ada tiga kategori: 5K, 10K, dan half marathon 21K . Dan yang gila, pendaftaran aja udah rame banget. Ketua panitia Kombes Daniel Widya Muharam bilang, sampai pertengahan Mei udah ada 8.000 peserta yang daftar—dengan rata-rata 2.000 pendaftar baru per hari . Bahkan ada peserta dari Afrika! Ini bukan cuma lari biasa, ini gerakan global yang dimulai dari Riau.
FIBA x MILO: Basket Dibangun dari Sekolah, Bukan dari Atas
Nah, kalo Riau Bhayangkara Run fokusnya pelari jalanan, ada lagi yang fokusnya anak-anak sekolah. 6 Mei 2026 lalu, FIBA dan MILO Indonesia resmi tandatangan kerjasama buat ngembangin basket di tingkat akar rumput . Dan ini didukung penuh sama Kementerian Pemuda dan Olahraga.
Menteri Erick Thohir bilang gini: “Saya sangat mengapresiasi MILO dan FIBA atas komitmennya mengembangkan olahraga di sekolah. Kerjasama ini adalah langkah positif untuk basket, salah satu olahraga paling populer di Indonesia, dan saya harap bisa menjangkau komunitas di tingkat akar rumput” .
Yang bikin ini serius? Mereka nggak cuma ngadain turnamen. Program ini fokus ke pelatihan dan sertifikasi pelatih serta wasit basket . Guru-guru olahraga di sekolah bakal dilibatkan dan disertifikasi lewat federasi. Ini adalah pembinaan berkelanjutan, bukan cuma acara seremonial.
Patrick Mariller, COO FIBA, bilang ini adalah “pencapaian strategis” buat mereka tahun ini . Dan Alaa Sahaban dari MILO nambahin, tujuannya adalah “membangun generasi yang aktif dan sehat melalui basket” .
Ini penting banget. Karena bibit juara basket Indonesia masa depan nggak lahir dari instan, tapi dari pembinaan di sekolah-sekolah yang dimulai sekarang.
SEA V.League: Voli Indonesia Siap Bertarung di Level ASEAN
Sekarang kita loncat ke Thailand. 15-19 Juli 2026, SEA V.League putra putaran pertama bakal digelar di Filipina . Dan yang bikin seru, Indonesia jadi tuan rumah putaran kedua pada 22-26 Juli 2026 .
Di putaran kedua yang digelar di Indonesia, tim putra Indonesia bakal bertemu sama lima tim lainnya: Thailand, Vietnam, Filipina, Kamboja, dan Myanmar . Ini pertama kalinya Myanmar ikut, jadi total ada 6 tim—kompetisi makin ketat.
Sementara tim putri Indonesia bakal bertanding di Vietnam pada 31 Juli-2 Agustus 2026 . Ini adalah ujian penting buat voli Indonesia sebelum Asian Games, dan juga kesempatan buat atlet-atlet kita mengukur kemampuan di level ASEAN.
Yang bikin ini spesial: Indonesia nggak cuma jadi penonton, tapi jadi tuan rumah dan pesaing serius. Dan ini semua terjadi di bulan Juli 2026.
Piala Presiden 2026: 64 Klub dari 38 Provinsi, Dibangun dari Bawah
Nggak cuma basket dan voli, sepak bola juga. Piala Presiden 2026 melibatkan 64 klub Liga 4 dari 38 provinsi . Ini bukan turnamen elite, ini turnamen yang dibangun dari akar rumput.
Menteri Erick Thohir bilang, “Piala Presiden tahun ini adalah bukti bahwa sepak bola dapat menjadi alat pemersatu dan harus dibangun dari tingkat akar rumput” . Pertandingan digelar serentak di 16 kota dari 30 Mei sampai 11 Juni .
PSSI punya tujuan jelas: memastikan pembinaan sepak bola dimulai dari level terendah dan meningkatkan kualitas klub lewat standar kompetisi yang lebih kuat . Juara dari berbagai turnamen lokal bakal maju ke Piala Presiden sebagai panggung nasional buat klub-klub yang selama ini jadi tulang punggung pembinaan sepak bola muda Indonesia .
Yang Bisa Kita Pelajari
1. Pembinaan Itu Butuh Waktu
FIBA x MILO nggak ngasih hasil instan. Mereka investasi di pelatih dan wasit . Riau Bhayangkara Run baru tahun ke-4, tapi udah tembus 15.000 peserta . Ini semua butuh proses.
2. Akses Itu Penting
Riau Bhayangkara Run buka buat pelari internasional . Piala Presiden libatkan klub dari 38 provinsi . SEA V.League jadi ajang ukur kemampuan regional . Anak muda di daerah punya panggung yang sama.
3. Kolaborasi Multi-Pihak Kunci
FIBA dan MILO dengan Kemenpora . Polda Riau ngadain lari internasional . PSSI dan pemerintah pusat lewat Piala Presiden . Semua bergandengan tangan.
Kesalahan yang Sering Terjadi
1. Cuma Fokus ke Event Gede
MotoGP Mandalika itu keren banget . Tapi kalo kita cuma perhatiin yang megah dan lupa sama pembinaan akar rumput, kita kehilangan setengah cerita.
2. Nganggap Even Lokal Nggak Penting
Riau Bhayangkara Run mungkin nggak sepopuler MotoGP. Tapi dengan 15.000 peserta dan sertifikasi World Athletics , ini adalah bukti kalo even lokal bisa naik kelas.
3. Lupa Dukung Atlet Muda
SEA V.League di Indonesia 22-26 Juli adalah kesempatan buat liat bibit-bibit voli kita. Jangan cuma heboh pas mereka juara, tapi dukung juga pas mereka bertanding.
Intinya: Olahraga Itu Dibangun dari Bawah, Bukan dari Atas
Juli 2026, di balik gemerlap MotoGP Mandalika yang ditonton 677 juta orang , ada tiga even yang nggak kalah penting: lari 15.000 peserta di Riau , basket di sekolah-sekolah lewat FIBA x MILO , voli di SEA V.League , dan sepak bola di Piala Presiden .
Ini adalah bukti kalo Indonesia serius. Bukan cuma bisa jadi tuan rumah event besar, tapi juga membangun ekosistem olahraga dari akar rumput. Dan ini bukan cuma soal atlet, tapi soal anak-anak muda di seluruh Indonesia yang punya mimpi.
Jadi, Juli 2026 bukan cuma bulan MotoGP. Ini adalah bulan di mana Indonesia menunjukkan kalo kita serius ngurus olahraga—dari bawah sampe atas.